Gaya hidup trendy, membuat para remaja menganugerahkan sebuah ‘lencana’ pada ‘hidup anti malu’, emang gak semua rasa malu itu gak baik, ada juga kok suatu hal yang kita diharuskan untuk memberanikan diri dan menghindari rasa malu. Menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu misalnya, ikut kajian islami, dakwah, ini semua membutuhkan keberanian. ‘anti malu dalam hal ini cenderung pada kebaikan.
Nah, yang kita bahas diawal tadi adalah ‘gaya hidup anti malu’ yang merugikan diri sendiri tapi dikasih label
trendy! Parah beud kan?!
Gaya hidup anti malu ini lahir dari budaya barat yang emang pada dasarnya mereka memiliki kebebasan individu buat ngapain aja, dimana
aja, dan kapan aja. Jadi wajar aja kalau rasa malunya menepi.
Sayangnya, remaja saat ini seakan sudah ter-lock pemikirannya dengan budaya anti malu yang
menyerang media massa para remaja tanpa henti, tanpa adanya sensor karena unsur
kebebasan yang mereka miliki. Dan anehnya lagi, para remaja ini mudah menerima
bahkan mengikuti dari apa yang sekilas tampak di akun media sosial mereka.
Lagi-lagi label trendy lah yang jadi penyebabnya. Canda trendy!. Ya kalo yang
baik-baik sih gak papa, bagus malah, lah kalo yang ngumbar-ngumbar aurat? Kalo
yang!!! Huuuhhhh.. nah loh?!
Makanya kita harus hati-hati dengan
serangan-serangan senjata ringan dari sosial media. Disaat saat seperti inilah
merevolusi pemikiran sangat diperlukan. Agar kita tidak teracuni oleh ‘budaya
anti malu’ yang merugikan ini.
Guys, yuk coba ubah mindset dari yang
beranggapanbahwa “rasa malu” itu kuno dan bikin kita gak produktif ke pemikiran
bahwa rasa malulah yang cukup efektif untuk jadi perisai kita. Dalam melakukan
sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan. Rasa malulah yang akan membuat kita
lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan.
Sebuah Hadits mengatakan :
“iman
dan rasa malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Bila rasa
malu tidak ada, maka imanpun akan sirna” (Al-Hakim)
Jangan lupa juga, rasa
malunya di control. Jangan karena rasa malu, jadinya malah malu-maluin lagi,
hehe.. canda, canda, canda.
Maksudnya gini temans, kita harus bisa dan harus
banget bersikap adil dalam menempatkan rasa malu. Karena apa-apa yang berlebihan
juga gak baik kan? Yakali pengen dakwah ke temen ngajak sholat misalnya,
gara-gara rasa malu ga jadi deh dakwahnya. Ini sih salah tempat namanya.
Temans, saatnya bagi kita untuk mangikutsertakan rasa malu pada diri kita. Yuk
jadikan rasa malu sebagai modal untuk meningktkan moral. Siap jadi Remaja new
Moral? Gass keunn!!
Penulis : Ananda Revalina Rmadhani
Kelas XII.IPA.B
IG : Nandarevv







Tidak ada komentar:
Posting Komentar